By: Nuril Widad
” Nak bangun.. sholat subuh ” teriak ibu di luar pintu. di mana tiap hari molor nggak mau sholat, akhirnya ayah sendiri mendobrak kamarku ” bangun yang mau sholat ” nada galak khas ayah terpaksa aku bangun. waktu itu aku berumur 9 tahun.
sekolahpun tiba, aku masih asik nonton TV. cukup lumayan ceramah pagi dari ibu, langsung aku mandi.
Disekolah hanya diam belajar sekedar memenuhi tugas, mau meraih prestasi kelas, yang lain dikit naik prestasi malah dikatain caper ke guru, jadi baiknya diam saja. sekolah Diniyah pun sama cuma memenuhi tugas hafalan, nggak target buat dapat prestasi. ibu selalu berkata ” kapan nak.. kamu buat orang tuamu bangga ” aku hanya diam. Emang harus gimana cara bisa membanggakan orang tua toh dikit temen sendiri pada ga suka.
Setelah lulus MI, langsung di pondokkan oleh ibu. jaraknya cukup dekat dengan rumah di mana tiap hari manja, jajan mulu, cucian dipaketin ke rumah, sakit dikit langsung ngadu minta sambang. suatu hari Mbak sepupu nggak tahan melihat kelakuanku ” kapan lagi kamu mandiri wid.., ibumu baru lahiran udah punya adik 2 masih aja manja, coba sekali ajah mandiri ” Aku terdiam, bahasa itu cukup sakit ku letakkan dalam jiwa. wid kamu harus berubah dari dulu selalu nyusahin orang tua nggak pernah banggain orang tua, kapan lagi mau berubah.
Sejak itu pula, aku berusaha semaksimal mungkin belajar tiap malam paling awal ngerjain soal jadi di sekolah gampang mencermati penjelasan guru.
Setiap ba’da shubuh ajian Alquran sorogan pada ibunyai. dibenarkan apabila makhorijul huruf yang salah, aku pun begitu makhorijul huruf belum tepat tajwid masih kurang jadi di samping ibunyai yang tidak bisa hadir karena ada acara, ada Mbak pengurus yang mengganti.
Haflatul imtihan, Alhamdulillah bisa menjuarai peringkat 3 setiap semester juara kelas gratis LKS. jadi saya bersyukur mengurangi beban ibu dan ayah.
Ku bercerita kepada mereka ayah ibu betapa bangga mereka mendengar peringkat tersebut. padahal sekedar peringkat bukan tauladan kelas ataupun bintang prestasi kelas.
jadi, waktu itu aku manfaatkan sungguh-sungguh untuk belajar setiap olimpiade Alhamdulillah sering diutus untuk mewakili sekolah. olimpiade fisika se-kabupaten dari 50 orang di peringkat ke-28, walau tidak masuk final minimal sudah masuk peringkat atas.
#
Minggu 18 Juli 2020. Resmi pindah di pondok pesantren ahlussunnah wal jamaah.
di pondok itu auranya cukup berubah drastis suasana asing teman asing tempat asing Baru kali ini aku jauh dari keluarga rasanya pengen nangis tapi gimana lagi harus bertahan 3 tahun di sini.
Hari demi hari ku lalui dengan penuh ikhtiar tawakal berharap kepada sang morobi ruhi memberikan hidayah ilmu yang berkah.
namanya anak baru biasanya dimasukkan ke kelas 1 Ula Melalui tes tulis maupun lisan dan Alhamdulillah aku beserta teman baruku naik kelas hanya saja kami lain tingkat Ula, yang lain Ula 3 malah aku sendiri Ula 4. terasa gak enak aneh bersama para seniornya takut yang mau begini begitu, namun tetap percaya diri belajar walau terkadang dibilang masih baru dibilang sok tahu.
setiap rintihan perjalanan yang ku lalui kini 1 tahun pun tiba, di mana kebiasaan di pondok sebelum pulang mengadakan lomba perindividu wajib ikut. selayaknya : Tahlil, Hadits ‘arbain, Tahfidz sambung ayat, khitobah dan paling diintik baca kitab kuning ” ya Allah.. aku belum pengalaman sebelumnya, selain berpuisi yang aku mampu ” lirihku dalam hati.
berita pun beredar 1 bulan sebelum lomba dilaksanakan, Semaksimal mungkin mulai dari baca kitab. Aku berusaha mencari para senior dan Mbak senior itu pun termasuk saingan lomba ku yah.. menemukan teman namanya Mbak Azizah, dia baik sekali memberiku arahan cara untuk membaca kitab yang benar serta penjelasan yg baik. heran aja pada diriku biasanya aku kelompok junior tak sepantasnya bersaing pada mereka malah bersaing dengan para senior sungguh menakutkan.
Meski tidak semaksimal bagian lomba yang lain, setidaknya belajar dan terus belajar walaupun sistem pemula membaca kitab tinggi setidaknya bisa membaca saja.
##
Hari yang ditunggu pun tiba satu persatu berobsesi dengan lancar walaupun tidak mencapai maksimal setidaknya jangan kurang dari minimal. Lomba baca kitab diletakkan paling akhir dikarenakan lomba paling menegangkan di antara yang lain di samping menunggu lotre antrian, listrik pondok konslet mati lampu karena aliran listrik terlalu banyak dipakai lantaran ada lomba kamar dan penambahan cahaya lampu terpaksa sekitar tinggal 13 orang dipindahkan ke musholla pondok putra, termasuk diriku salah satu peserta. cukup tegang melihat juri adalah ustad-ustad senior yang sudah paham nahwu shorofnya.
Di sebelahku Mbak senior dengan asiknya baca kitab tanpa harakat sebaliknya aku masih berpatokan dengan yang namanya harakat, “ya Allah hamba tidak mengharapkan lebih, hamba harap semoga dilancarkan ” akhirnya sebutan pun tiba.
###
Berselang malam puncak teman-teman bersorak ria menonton keseruan penampilan drama sang potre kuning, ya legenda potre kerajaan Madura. di sela-sela pengistirahatan diisi dengan pemenang lomba, ya bersyukur cuman meraih tartil Qur’an saja.
di waktu selangnya drama, tiba-tiba perut sakit jadi terpaksa izin ke panitia, awalnya mereka tak membolehkan karena mereka melihatku kesakitan jadi terpaksa deh dibolehkan.
Menjelang 3 menit di kamar mandi, Mbak Amel panggil aku dari luar kamar mandi ” iya mbak ada apa ?” Teriakku dari kamar mandi, “kamu juara kitab loh.. cepetan keluar” desak Mbak Amel. “loh kok bisa Mbak” heran sendiri kenapa aku ya, secepatnya ku beranjak keluar lalu menerima penghargaan tersebut.
Keesokannya pulang, berbondong-bondong kami di penghujung penjemputan. akhirnya ayah datang lalu aku sodorkan penghargaan itu “beneran ini kamu” sambil mengusap air mata. ” iya yah.. dengan hati kerja keras Wiwid hanya bisa meraih penghargaan satu aja. maaf yah.. Wiwid nggak banyak dapat prestasi” ku tatap kelopak ayah dengan penuh harapan ” nak begini saja ayah sudah bangga kamu udah berubah sudah bisa berusaha tanpa harus ayah paksa ” ayah pun memelukku dengan erat.
#
Satu tahun berlalu, merangkai hari tanpa harus mengenal cinta membuat orang buta untuk belajar terkadang rasa berkecamuh, gemuruh mengalahkan nafsu ataupun akal. sudah pernah kujadikan pelarian yang ternyata korban zona ternyaman, yang cukup singkat hingga hanya sesaat hadirnya menggores luka yang amat pekat secepat itu, dia hebat.. sejauh mata memandang sekedar diriku yang kau luluh lantahkan dengan hadirmu yang cukup dekat. selayaknya nahkoda yang berlayar menghipnotis semua sorotan unik tapi sifatnya tak pantas dikagumi oleh perempuan baik, lalu di sini aku belajar pada keadaan bahwa “kisahku sekedar goresan pena di mana saksi hanyalah alunan angin yang sekedar singgah tanpa meninggalkan jejak “.
##
Tiga tahun berlalu semakin hari ku sibukkan dengan belajar hafalan belajar hafalan ya belajar. di ujung akhirussanah pondok di mana Aku pun menjadi salah satu panitia pelaksana yakni dari setiap departemen kamar, walaupun cukup berat bismillah semoga dapat barokah guru manut ibunyai kyai.
Acara pun berlangsung yang disatukan dengan Haul pondok dimulai dari pembagian lomba walaupun tidak menjuarai semua lomba setidaknya minimal membanggakan orang tua. ya.. ternyata juara khitobah cukup nggak nyangka tapi alhamdulillah disusul juara hadis langsung aku kasih hadiah itu pada ibu saat itu ayah gak ikut karena adik sakit di rumah, jadi yang hadir hanyalah ibu saja.
Waktu prosesi wisuda juz 30, akupun ikut serta pada wisuda tersebut. sebelum pemanggilan wisuda didahului peringkat. ya.. bersyukur bisa dapat peringkat satu dan dapat potongan uang kos pondok selama 3 bulan, setelah itu penyebutan santri Tauladan di mana semua santri dinilai dari akhlak yang baik dan kerajinan jama’ah dan semacamnya selama masa priode 1 tahun, diiringi puisi instrumen yang sangat makuk dalam hati.
” Tauladan pondok pesantren ahlussunnah wal jamaah”.
kala malam tengah gelap gulita, secercah cahaya datang di tengah-tengah kota, kernap kernipnya mengkilau bait dan permata, sinar rembulan pun takluk padanya, dia anggun bukan Karena kecantikannya, namun karena keindahan akhlaknya, semua harapan ia rangkul bersama, sujud tahajud dan doa sejuta tekad dan semangat ia lakukan agar mimpinya menjadi nyata, dia laksana malaikat yang tercipta dari kedua orang tua yang selalu mendidik nya penuh cinta, menerjang segala pahitnya lelah, bersama dengan tangan yang menengadah, meminta sambil terlerai air mata, dia terlahir dari kedua pasangan yang sederhana, tak pernah terucap darinya secuil kata yang dapat melukai jiwa, hanya senyum yang merekah menghias bibirnya, hingga dengan kesopanan dan kepribadiannya, ia berhasil menghipnotis semua pandang mata, baik budi pekertinya, semakin menjadi pelengkap identitasnya, dia terlahir tempat tinggal nan jauh di sana kota Pamekasan, bumi yang subur terpijak oleh langkahnya, dengan kesabaran ia meniti area rintangan yang menerpa, dan menggali ilmu dengan sekuat tenaga, langit yang di junjung tinggi, ikut serta menjadi saksi atas kegigihan dia terlahir tepat pada tanggal 11 November 2004, berbahagialah kepada kedua orang tua yang telah berhasil membesarkan dan mendidiknya, menjadikannya sebagai wanita Sholihah yang saat ini akan dinobatkan santri tauladan PP. Ahlusssunnah waljama’ah dialah ananda Nurwiwid “.
Tergurai air mata mendengar nama itu “ibu itu aku” tak percaya ini mimpi atau tidak, ” nak.. ibu sangat bahagia mendengarnya ” tangis ibu sambil memelukku.
Pada akhirnya kesopanan dan kegigihan seorang santri adalah prihal suatu yang sangat istimewa untuk kita banggakan.
” Ayah.. ibu..
Aku bangga menjadi anak Didik mu “.
Tamat
Jombang 15 Februari 2024


Tinggalkan Balasan