Oleh: Zulfa Nuril Lailatus Siyam
Jalanan penuh gemerlap pijar yang berjajar
Nampak raut ku tercermin pada sisa-sisa hujan malam ini
Bersama sunyi, sesekali suara mesin mobil membersamai
Langkahku tak menentu, sesekali menengadah menyapa purnama nan jelita
Pada hadang ku tak melihat
Pada bayang ku tak merasa,
Hampa, entah
kemana daksa ku kan bermuara
Seolah bentala sudah berujung
Langkah terhenti bersama secuil memoar
Luka tak tertahan
Sesak yang menghadang
Bayang nya mendekat
Ratunya nampak mulai jelas
Desir angin membawanya
Semerbak yang menghanyutkan
Setetes bulir menapaki kelopak
Napas ku tak tertahan
Sengguk yang kurasa
Tak kuasa ku menahan daksa di atas jiwa
Terkesiap ku pada tepuk
Tersengal ku dibuatnya
“menyebalkan” ku mengumpat pada diri
Bangkit dan meninggalkan tempat itu
Yang mendatangkan ku kembali pada perih.


Tinggalkan Balasan