Lakon “Setan dalam Bahaya”

Adaptasi karya sastra karya Taufik Al Hakim, metode lain dalam menyampaikan moral dan pendidikan.

Oleh: Alfa M. HRP

Pada selasa 10 Juni 2025 lalu Prodi PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) mengadakan sebuah Teater sebagai sebuah adaptasi dari karya Taufik Al Hakim dengan melakukan berbagai kerjasama diantaranya organisasi CSSMoRA MAHA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs Ma’had Aly Hasyim Asy’ari). Dengan adanya teater ini, menjadi sebuah langkah awal CSSMoRA membangun kerjasama dengan UNHASY.

Adanya kerjasama ini merupakan sebuah keinginan bersama untuk menjaga kelestarian budaya yang ada di Indonesia dan sebagai sarana lain dalam menyampaikan pendidikan dan pesan moral dalam bentuk adaptasi kebudayaan.

Teater dalam pengertiannya merupakan sebuah bahasa yunani yang diambil dari kata “Theotron” yang berarti sebuah seni pertunjukan yang menyajikan cerita atau kejadian yang dimainkan di atas panggung, disaksikan oleh penonton, dan melibatkan aktor yang memainkan peran tertentu dalam sebuah cerita. Melalui Lakon “Setan dalam Bahaya” Mahasiswa bertujuan untuk memunculkan sebuah sarana penyampaian pendidikan mengenai dunia keluarga, filosofi hidup dan lainnya. Selain menampilkan sebuah Lakon dengan berbagai adegan Jenaka dan serius Lakon ini juga menyelipkan berbagai pesan moral yang mengena sebab Teater bukan hanya hiburan ia merupakan salah satu bentuk seni yang memiliki potensi luar biasa dalam dunia pendidikan. Dalam era di mana pembelajaran sering kali terfokus pada aspek kognitif, teater menawarkan pendekatan yang holistik, mengintegrasikan emosi, kreativitas, dan interaksi sosial.

Setan dan kaitannya dengan sang Filsuf tua

Dalam teater kali ini Setan yang merupakan sebuah tokoh yang familier dengan berbagai opini tentangnya menjadi salah satu hal menarik dalam Teater kali ini. bagaimana tidak, Setan sebagai konsep, telah menempati ruang yang signifikan dalam berbagai budaya dan tradisi. Ia sering kali dilihat sebagai representasi kejahatan dan godaan, tetapi ada lebih banyak yang dapat dieksplorasi dari sosok yang kompleks ini. Secara tradisional, setan diidentifikasi dengan segala sesuatu yang dianggap jahat. Dalam banyak teks religius, ia digambarkan sebagai penggoda yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Namun, pandangan ini sering kali terlalu sederhana.

Alih-alih memperlihatkan sisi menakutkan dalam diri setan, Lakon ini lebih memperlihatkan pada sisi Setan sebagai entitas eksternal yang mempengaruhi manusia, dan juga cerminan dari kegelapan yang ada di dalam diri seorang Filsuf tua.

Sikap setan yang penuh dengan kakhawatiran dan keserakahan ditampilkan dalam berbagai dialog seperti kemunculannya pada larut malam menjumpai Filsuf tua mengadukan ketakutan akan dirinya dimasa yang akan datang dengan kemusnahan dirinya dengan peperangan yang terjadi pada manusia. Nalarnya, dengan kemusnahan manusia akibat peperangan maka ia pun akan musnah sebab tugasnya telah usai.

Dialog antara Filsuf dengan kemunculan istrinya pada klimaks dialog menjawab keterkaitan antara Filsuf dan setan yang ternyata memiliki keterkaitan dimana sang setan merupakan manifestasi sikap dan sisi kegelapan sang Filsuf yang penuh dengan kekhawatiran dan kecemasan akan dirinya dengan kemusnahan.

Sikap sang istri yang penuh dengan kecongkaan dan kesombongan dengan prinsip yang kuat merupakan manifestasi dari peperangan yang mengancam Filsuf terbukti melalui dialog keinginan kuat sang istri untuk menguasai rumah dan menjadi kepala keluarga dan memegang keuangan serta kepemimpinan seutuhnya dalam berkeluarga.

Berkeluarga mampu menjadikanmu seorang Filsuf

“Seorang Filsuf yang menjalani kehidupan berkeluarga selama 10 tahun tanpa satupun Filsafat dalam pikirannya” merupakan dialog yang sangat mengena bagi penonton, dialog yang merupakan sebuah adaptasi kekerasan seorang istri dan keangkuhan seorang suami yang sulit dalam memahami jalan pikiran sang istri dan tidak mampu menyelaraskan antara pikirannya dan pikiran sang istri menimbulkan prinsip keras antara satu sama lain menjadikan suasana keluarga kaku tanpa cinta kasih. Dalam sebuah hubungan, terutama pernikahan, pemahaman satu sama lain adalah fondasi yang sangat penting. Memahami istri bukan hanya tentang mengenali kebiasaan dan preferensinya, tetapi juga tentang menghargai perasaannya, mendengarkan kebutuhannya, dan berkomunikasi secara efektif.

Sikap sang istri yang penuh dengan perasaan menimbulkan berbagai ekspresi tatkala Filsuf tidak mampu menggunakan narasi yang sesuai sehingga menimulkan berbagai pertengkaran, melalui berbagai dialog sang istri merasa bahwa Filsuf menganggap bahwa dirinya lebih hebat dan utama dari dirinya. Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Memahami istri berarti menerima perbedaan tersebut dan melihatnya sebagai kekuatan, bukan kelemahan namun sang Filsuf belum mampu menerima dan menurunkan egonya dalam hal ini.

Maka, kesimpulan yang dapat diambil melalui banyaknya pelajaran dalam Teater ini adalah Memahami istri bukanlah tugas yang mudah, tetapi merupakan investasi yang berharga dalam hubungan. Dengan mendengarkan, menghargai perbedaan, berkomunikasi secara terbuka, dan menunjukkan dukungan, Anda dapat menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan bahagia. Pada akhirnya, pemahaman yang mendalam akan mengarah pada cinta yang lebih kuat dan saling menghargai, menjadikan pernikahan sebagai perjalanan yang penuh dengan keindahan dan makna.

Alfa M. HRP Anggota CSSMoRA MAHA 2022

, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *