Kebangsaan dalam Kacamata Hadis: Spirit Santri untuk Indonesia Emas

Oleh: Dr. Amrulloh, Lc., M.Th.I & Ananda Prayogi, M.Ag.

Penyusun artiekl: Tim LIC CSSMoRA MAHA

Kebangsaan adalah kesadaran bahwa kita hidup bersama dalam satu rumah besar bernama bangsa. Kesadaran ini melahirkan identitas, aturan, dan keteraturan sosial yang menjadi kebutuhan mendasar manusia. Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial yang hanya mungkin berkembang jika hidup bersama; Hobbes menekankan perlunya aturan untuk menciptakan ketertiban; sementara Maslow melihat identitas sebagai bagian dari aktualisasi diri. Dengan kata lain, bangsa hadir untuk mengakomodasi kebutuhan manusia yang paling esensial.

Kebangsaan Indonesia: Lahir dari Sejarah dan Perjuangan

Kebangsaan Indonesia bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia lahir dari sejarah panjang, perjuangan, serta kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Nasionalisme Indonesia adalah paduan antara kesadaran kebangsaan dan cinta tanah air. Bagi kalangan santri, nasionalisme memiliki makna yang sangat penting. Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbud Ristek) dan Profil Santri Indonesia (Kemenag) merupakan kerangka untuk membentuk generasi yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

Cinta Tanah Air dalam Perspektif Hadis

Ungkapan hubb al-wathan min al-iman (حب الوطن من الإيمان) sering dikutip untuk menegaskan pentingnya nasionalisme dalam Islam. Secara sanad, para ulama menilai kalimat ini bukan hadis Nabi yang sahih. Namun, para ulama sepakat bahwa maknanya benar dan substansinya sesuai dengan ajaran Islam (Al-Mulla ‘Ali al-Qari 1986).

Lebih jauh, terdapat hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki ikatan emosional yang kuat dengan tanah airnya sebagai bukti kecintaan beliau terhadap bangsa dan tanah air, diantaranya;

1. Nabi mencintai Madinah sebagaimana mencintai Mekah

Hadis riwayat Musnad Ahmad, No.24288:

 حَدَّثَنَا ابْن تميرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهِيَ أَوْيَا أَرْضِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاشْتَكَى أَبُو بَكْرٍ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ حَيْبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحَيْنَا مَكَّةَ، أَوْ أَشَدَّ وصححها، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدَهَا، وَصَاعِهَا، وَانْقُل حَمَاهَا، فَاجْعَلْهَا فِي الْجُحْفَةِ»
“Ya Allah, jadikanlah Madinah kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih dari itu. Sehatkanlah (keadaan)nya bagi kami, berkahilah takaran sa` dan mudd-nya bagi kami, serta pindahkanlah penyakit demamnya, lalu jadikanlah di al-juhfah”.

Hadis ini menegaskan bahwa kecintaan pada tanah air adalah fitrah, bahkan Nabi berdoa agar rasa cinta itu menguat. Hadis ini juga merupakan sebuah alasan bahwa tanah air memiliki dua defenisi, yakni pertama, tempat dimana kita dilahirkan. Kedua, tempat dimana kita sedang bertempat tinggal saat itu juga. Hal ini selaras dengan konteks hadis yang menunjukkan rasa cinta nabi terhadap kota makkah sebagai tanah kelahiran, dan madinah sebagai tanah tempat tinggal nabi saat itu. 

2. Nabi merindukan Mekah setelah hijrah

Riwayat al-Tirmidzi (no. 3926):

حَدَّثنا محمد بن موسى البصري قال: حدثنا الفُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ حَتَيْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَأَبُو الطَّفَيْلِ، عَنْ ابْنِ عباس، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَّةَ: «مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وأحبك إلى، ولولا أن قومي الحرجوني منك ما سكنت غيرك» : «هَذَا حَدِيث حسن صحيح غريبٌ مِنْ هَذَا الوجه
“Demi Allah, engkau (Mekah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan paling kucintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan keluar.

Hadis ini menunjukkan bahwa fithrah seorang manusia pasti mencintai dan menyayangi tempat kelahirannya dan dimana ia tumbuh berkembang sebagai seorang manusia. kerinduan Nabi kepada Mekah tetap besar sebagai tanah kelahirannya, meski ia harus hijrah ke Madinah.

3. Pertemuan Nabi dengan Waraqah bin Naufal

Hadis muttafaq ‘alayh: Nabi diberi kabar bahwa kaumnya akan mengusirnya dari Mekah:

قال السهيلي : وفي حديث ورقة أنه قال الرسول الله صلى الله عليه وسلم لتكذينه، فلم يقل له النبي صلى الله عليه وسلم شيئا، ثم قال : ولتؤذينه، فلم يقل النبي صلى الله عليه وسلم شيئا، ثم قال : ولتخرجنه، فقال : أو مخرجي هم؟ ففي هذا دليل على حب الوطن وشدة مفارقته على النفس. شرح الحديث المقتفى في مبعث النبي المصطفى لأبي شامة (665). 
“Apakah mereka akan mengusirku?”

Ekspresi terkejut Nabi menunjukkan betapa beratnya perpisahan dengan tanah air. Ungkapan Waraqah tatkala mengetahui tanda kenabian pada nabi Muhammad pada mulanya masih bisa diterima oleh nabi yakni ia akan didustakan dan disiksa. Namun, ketika waraqah menyampaikan bahwa nabi akan diusir dari tanah kelahiran terdapat kegelisahan dan berat dalam hati beliau.

4. Doa Nabi untuk keberkahan tanah air

Riwayat Muttafaq ‘alaih

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمِينَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَفِي نَجْدِنَا؟ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَفِي نَجْدِنَا؟ فَأَظْتُهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «هُنَاكَ الزَّلازِلُ وَالْفِتَنُ، وَبِمَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
“Ya Allah, berkahilah kami dengan kota Syam kami, ya Allah berkahilah kami dengan kota yaman kami”

Doa ini memperlihatkan kepedulian Nabi terhadap kesejahteraan negeri yang ditinggali.

5.  Nabi cinta Madinah

Riwayat Shohih Bukhari, 1886

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جدراتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا.

Hadis ini menjelaskan betapa cintanya nabi terhadap tempat tinggal beliau, ditunjukkan dengan betapa semangatnya nabi tatkala kembali dari perjalanan beliau terkadang mempercepat kendaraannya untuk segera pulang dan memberikan reaksi bahagia tatkala perjalanan hampir sampai pada tujuan.

Imam Ibnu Hajar tatkala mensyrahi hadis ini dalam kitab Fathul bari menanggapi Hadis ini sebagai dalil di syari’atkannya cinta terhadap tanah air dan senantiasa merindukannya.

Nasionalisme sebagai Bagian dari Iman

Hadis-hadis di atas membuktikan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari ajaran Islam. Mencintai wathan (tanah air) berarti menjaga keberlangsungan hidup, keselamatan, dan kesejahteraan bersama. Para ulama seperti al-Sakhawi dan al-Mulla ‘Ali al-Qari menegaskan, meski hadis hubb al-wathan min al-iman lemah sanadnya, makna “cinta tanah air adalah bagian dari iman” tetap sahih dari segi substansi (Al-Sakhawi, Shams al-Din, 1985).

Peran Santri untuk Indonesia Emas 2045

Dari perspektif hadis, santri memiliki tanggung jawab ganda: berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis sekaligus menjadi penjaga nilai kebangsaan. Dalam konteks Indonesia, santri diharapkan:

  1. Menjunjung tinggi cinta tanah air sebagaimana teladan Nabi.
  2. Menginternalisasi Profil Pelajar Pancasila dan Profil Santri Indonesia.
  3. Berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Penutup

Kebangsaan dalam kacamata hadis menegaskan bahwa nasionalisme sejalan dengan iman. Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberi teladan kecintaan pada Mekah dan Madinah. Oleh karena itu, bagi Indonesia, mencintai tanah air bukan sekadar nilai budaya, melainkan bagian dari penghayatan iman.

Santri, dengan bekal ilmu agama dan spirit kebangsaan, diharapkan menjadi motor penggerak yang menjaga persatuan dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Daftar Pustaka

  1. Al-Sakhawi, Shams al-Din. al-Maqasid al-Hasanah fi Bayan Kathir min al-Ahadith al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1985.
  2. Al-Mulla ‘Ali al-Qari. al-Asrar al-Marfu‘ah fi al-Ahadith al-Mawdu‘ah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1986.
  3. Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.
  4. Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1991.
  5. Al-Tirmidzi, Muhammad ibn Isa. Sunan al-Tirmidzi. Kairo: Dar al-Hadith, 1999.
  6. Kemendikbud Ristek. Rencana Strategis 2020–2024. Jakarta: Kemendikbud Ristek, 2020.
  7. Kementerian Agama RI. Profil Santri Indonesia. Jakarta: Ditjen Pendidikan Islam, 2023.
, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *