HADIAH ULANG TAHUNKU, HILANGNYA SANDALKU

Oleh : Febri Wulanjani

Pagi itu, embun masih betah menggantung di ujung-ujung rumput halaman Asrama. Udara segar menyusup di antara bau wangi sabun cuci dari jemuran Mahasantri. Jam menunjukkan pukul 08.10 WIB, dan sekelompok Mahasantri semester dua telah berdiri rapi di depan gerbang pondok.

Di antara mereka, faiq, Mahasantri semester dua yang hari itu genap berusia 19 tahun, tampak paling diam tapi paling bersinar. Bukan karena pakaiannya mencolok—justru ia mengenakan sarung polos dan baju koko sederhana—tapi karena wajahnya memancarkan semangat yang berbeda.

Hari itu, ia dan teman-teman seangkatannya akan sowan ke ndalem salah satu  masyayikh sepuh yang tinggal tak jauh dari asrama. Sudah menjadi tradisi angkatan mereka: setiap akhir semester sowan bersama untuk minta doa, petuah, dan keberkahan.

Kebetulan—atau mungkin takdir yang manis—hari itu juga adalah ulang tahun Faiq. Ia tak bilang siapa-siapa. Hanya dalam hati, ia niatkan sowan ini sebagai bentuk syukur, bukan selebrasi.

“Sudah siap?” tanya badrun, koordinator angkatan mereka.

“Bismillah,” jawab Faiq  pendek.

Sebagian mereka ada yang  berjalan kaki menyusuri gang kampung, dan sebagian ada yang naik motor membelah jalanan desa yang udaranya masih sejuk, membawa bingkisan kecil: madu, roti kering, dan segelas niat baik.

Sesampainya di ndalem kiyai tersebut, mereka melepas sandal, menatanya rapi di beranda ndalem beliau. Faiq meletakkan sandal jepit sporty hitam abu-abu kesayangannya di sudut, agak jauh dari kerumunan, supaya tidak tertukar. Sandal itu sudah menemaninya sejak lama.

Setelah dipersilakan masuk, mereka duduk bersila menghadap kiyai tersebut yang sudah menunggu di ruang tamu. Wajah beliau bersih, tenang, dan mata yang menyelami setiap santri-santrinya seolah bisa membaca isi hati.

Arifin mewakili menyampaikan maksud sowan. Kiai mengangguk pelan, lalu menyampaikan nasihat tentang pentingnya sanad, istiqamah menuntut ilmu, dan jangan gampang putus asa walau ujian datang bertubi-tubi.

Sebelum pamit, Kiai mengangkat tangan, memimpin doa. Suaranya mengalun pelan: “Ya Allah… panjangkan umur anak-anak ini, beri mereka ilmu yang manfaat, jadikan mereka orang yang membahagiakan orang tuanya…….”

Doa selesai. Mereka foto bersama kemudian mencium tangan kiai satu per satu, lalu keluar menuju beranda.

Namun…

Ketika Faiq hendak memakai sandalnya—ia kehilangan

Ia celingukan, mencari sendalnya yang entah ke mana. Di sisi lain, sandal-sandal lain sudah berpindah-pindah. Beberapa santri sudah buru-buru pulang. Tak jelas siapa yang mungkin tak sengaja memakainya.

“Lho, Iq, sandale?” tanya abdul.

“Raib. Mungkin sandalnya udah ga sayang sama aku lagi,” jawab Faiq santai.

Teman-temannya tertawa. Arifin menawarkan sandal pinjaman, tapi Faiq menolak.

“Sudah, aku nyeker saja. Anggap ini bagian dari latihan zuhud,” katanya sambil mengelus dada dan mencoba ikhlas.

Di perjalanan, teman-temannya masih menggoda.

“Hadiah ulang tahunmu: hilang sandal!”

“Ulang tahunmu disambut langit dan kehilangan bumi.”

Tapi Faiq hanya tersenyum. Dalam hati ia berkata:

“Kalau kehilangan satu sandal bisa jadi penggugur dosa kecil… biarlah. Asal jangan kehilangan arah hidup.”

Alangkah bijak dan lapangnya hati faiq. Dihari ulang tahunnnya, ia harus belajar ikhlas dan menerima ditinggal sandal kesayangannya yang sudah menemaninya selama bertahun tahun. Dan  itu salah satu kado yang sangat berkesan baginya diulang tahunnya yang ke 19 ini, karna kehilangan barang kesayangannya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *