FAJARATAKSA
Malam hari, 20 November, 2040.
Gemerlap lampu jalan mulai menerangi tengah kota Azora, disusul bising kendaraan para karyawan dan pekerja kantoran yang sedang pulang menuju rumah mereka masing-masing. Malam itu, Max kembali ke rumah setelah pulang dari tempat kerjanya.
“Ayah pulang…”, sapa Max sambil membuka pintu rumah, mendapati Si kecil yang selalu menyambutnya setiap ia datang. “hai Ayah, kok hari ini Ayah pulang lebih awal?”, sahut Aira, putri kecil semata wayangnya. Max tidak biasanya pulang lebih awal, karena di hari hari biasa, Max selalu mengambil kerja lembur tiap kali ada garapan, “iya sayang, hari ini kan hari ulang tahunmu, masa Ayah lupa?”, hibur Max, walau dalam lubuk hati, bukan itu alasan dia pulang awal waktu, “oh iyaa, hehehe…terus, mana hadiahku yah?”, Max mengambil dua buah coklat dari sakunya, ia mendapatkan coklat itu tepat selepas pulang kerja tadi, “selamat ulah tahun sayang, maaf ya…Ayah cuma bisa kasih ini”, sambil menyodorkannya ke Aira, “wah, tak apa…terima kasih Ayah”, “iya”, balas Max lembut.
…TARRR…
Mangkok bergambar ayam khas warung bakso dan piring hadiah sabun cuci, hancur berkeping keping, piring itu pecah, seolah menumpahkan rahasia yang tak sanggup lagi ditampung oleh meja makan. “kau tega bang…”. Ratna, perempuan yang dahulu terpikat oleh janji manis seorang pria, dan berakhir di lubang buaya, dia adalah istri Max.
“maafkan abang bun, abang khilaf”, Max tahu bahwa yang dia lakukan adalah hal yang salah, tapi ia tak ingin mengakhiri status pernikahannya dengan Ratna secepat ini, di sisi lain, Max masih punya Aira.
***
20 November 2040, pagi harinya…
Suara mesin ketik terdengar riuh, dering telepon kantor mulai bersahutan bak kicau burung di pagi hari, dan derap langkah para karyawan tak kunjung berhenti berlalu lalang. Dan tepat di ujung koridor kantor, sebuah ruangan yang diselimuti aura seram, misterius dan mampu membuat keringat dingin siapapun yang menatapnya. Ruang Direktur.
“HEI BODOH, mana kontrak yang kau janjikan bulan lalu, investor yang menjalin kerja sama dengan perusahaan kita, akan mengambil semua uang mereka kalau seperti ini!!!”, Abdul Ghani, Sang Visioner berpendirian kuat, tegas, kritis dan perfeksionis, menatap Max penuh amarah. Beberapa waktu lalu, Max ditawari job oleh Abdul Ghani, untuk menjalin kontrak dengan para investor perusahaan, meskipun Max tau kalau dia belum memiliki skill yang mumpuni dalam job ini, Max tetap mengambilnya.
Atmosfer ruangan itu menjadi tak karuan, segala bentuk caci maki telah keluar dari mulut Abdul Ghani, Max membela, “maaf pak, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan hasilnya tetap nihil”, “kau berulang kali sudah gagal dalam pekerjaanmu Max, dan jika hasil kerjamu terus seperti ini, perusahaan bisa hancur karenamu!”, sergah Abdul Ghani.
Di kantor, Max memang dikenal sebagai pribadi yang tidak kompeten dalam pekerjaannya, tiap kali dia diberi tugas oleh atasan, hampir selalu gagal dibuatnya. Dan mungkin, ini kali terakhir Ayah Aira ada disini. “Max, mungkin sudah saatnya aku bilang padamu, suatu hal”, sebenarnya, sang Direktur sudah lama ingin membuat keputusan ini, namun ia memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya, dan ini saatnya.
Raut wajah Max mulai kusut, tatap mata nya tak bisa berbohong, telapak tangannya dingin seperti memegang Se balok es batu berjam jam, Jantung Max berdegup kencang bagai dikejar harimau kelaparan. “a-apa itu pak Direktur?”, tanya Max terbata-bata, “setelah melihat kinerjamu belakangan ini, aku rasa, sulit untuk bisa mempertahankanmu bekerja di sini Max, terima kasih untuk semuanya”, terang Abdul Ghani sambil membakar rokok, “tapi pak, saya masih bisa mengusahakan yang terbaik untuk perusahaan ini pak, saya bisa me…” “cukup Max, silahkan keluar dari ruangan saya”.
Max keluar dari ruangan itu dengan Langkah kaki yang berat, pikirannya kacau, usaha ingin menghidupi istri dan putri kecilnya telah sirna, Max dipecat. Tepat setelah dia menginjakan kan kaki terakhir kalinya di perusahaan itu, Max hilang arah, dia kehilangan tujuan dimana dia bisa mendapatkan pekerjaan lagi setelah itu, namun dia tak pernah putus asa, karena dia adalah Max.
***
Max memang tak pernah serius dalam hal apapun, bahkan waktu Max masih sekolah, dia tak pernah sedikitpun menghiraukan nasihat gurunya, ketika pelajaran di sekolah sudah dimulai, dia sering bolos ke kantin sekolah yang letaknya tak jauh dari kelasnya. Di waktu kelulusan sekolah, Max lebih memilih langsung mencari kerja daripada lanjut kuliah, menurutnya, kuliah adalah hal yang dilakukan oleh pengangguran setelah lulus sekolah.
Suatu anugerah bagi Max yang baru lulus sekolah, bisa langsung bekerja di sebuah perusahaan makanan ringan yang amat terkenal di kota itu, meskipun Manajer perusahaan dulu, menerima Max bekerja hanya berdasarkan satu alasan, bahwa Ayah Max-lah yang dulu ikut membesarkan nama perusahaan hingga seperti sekarang.
Rasa pasrah akan apa yang terjadi membuntutinya dari pintu kantor sampai jalan pulang, membuat Max bingung, apa yang akan ia katakan pada anak dan istrinya bahwa ia dikeluarkan dari pekerjaan. Sebelum menuju rumah, Max sempat beberapa kali mencoba melamar pekerjaan di tempat yang mungkin saja bisa menerimanya. Dan ya, semua orang menolaknya mentah mentah, seakan dunia ini sudah tak ada tempat lagi untuk dirinya, kecuali Rumah.
Meskipun Max buruk dalam hal pekerjaan, tapi ia tak ingin menjadi ayah yang buruk bagi Aira, ia ingat hari ini adalah hari ulang tahunnya. Diujung gang sempit dekat rumah Max, terdapat toko kelontong yang menjual berbagai macam dagangan, mulai dari sembako, rokok, alat-alat masak, alat mandi, dan semacam keperluan rumah tangga yang lain, termasuk makanan ringan. Max mulai menelisir di sudut-sudut etalase makanan ringan yang menyediakan berbagai varian, permen, coklat dubai, keripik kentang, dan roti yang tertata rapi di rak etalase makanan ringan, beserta harganya. Max mulai merogoh saku celana dan bajunya, berharap ada uang yang cukup untuk membeli beberapa makanan ringan yang Aira sukai, dan mungkin beberapa minuman.
Hanya selembar uang dua ribu rupiah dan beberapa koin receh yang tersisa di sakunya. Max mengambil napas panjang, mulai berpikir apa yang bisa ia beli dengan recehan itu.
Tak ada.Tak ada yang bisa dibeli dengan uang receh itu kawan, apapun itu. Perlahan Max kembali melangkah dengan rasa bersalah dan putus asa, “apakah aku juga akan gagal menjadi ayah yang baik bagi putriku?”, Max pun meninggalkan toko itu, menyisakan harapan bahwa anak nya, Aira bisa memaafkannya kali ini, kali ini saja.
“pak, ada yang bisa dibantu?”, pemilik toko kelontong yang sedari tadi melihat Max dalam keadaan bingung, berniat ingin membantu, “saya ingin membeli makanan ringan untuk anak saya koh, tapi uang saya tak cukup”, ucapan Max terlihat sangat tulus ingin mendapatkan makanan ringan itu, raut wajahnya sayu, tatapan matanya tak bisa berbohong, “ini pak, ada makanan ringan yang mungkin cukup untuk anak bapak”, Kokoh pemilik toko kelontong itu mengambil dua buah coklat dubai yang ada di etalase makanan ringan, dan memberikannya kepada Max, “maaf koh, tapi uang saya tak cukup untuk membeli itu”, kedua coklat itu diselipkan di saku Max sambil tersenyum, “bawalah, ini untuk anakmu dariku”.
Max berlari sekencang mungkin menuju rumah, melewati gang-gang sempit yang berkelok, jalanan terjal dan berlubang kian tak jadi masalah baginya, Max bahagia.
Setiba di depan rumahnya, ada pintu yang ingin sekali langsung ia buka, rasa ingin memeluk istri dan anaknya pun tak mampu tertahankan. Namun, pikiran Max terbayang bayang tentang apa yang akan ia katakan pada kedua orang yang paling ia sayang, ia takut ia akan dibenci seumur hidup oleh keluarganya sendiri.
Selangkah demi selangkah, meski terasa berat, Max mengukuhkan niat untuk masuk ke dalam, tepat di depan pintu kayu berwarna coklat tua yang mulai termakan usia itu, kedua tangan Max bergetar, denyut nadi seakan hilang secara tiba-tiba, ia mematung sesaat. Sambil menggigit bibir, Max mengangkat salah satu tangan niat ingin mengetuk pintu, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa, satu-satunya hal yang mau menerimanya di dunia, adalah Keluarga.
***
Tok tok tok…Bunyi ketukan pintu terdengar sampai telinga orang yang berada di dalam rumah, mengisyaratkan bahwa ada seseorang yang akan bertamu ke tempat itu. “Airaa…Tolong bukakan pintu, liat siapa yang datang ke rumah” “iyaa bun”, suara langkah anak kecil yang berlarian menyusuri tiap ruangan, terdengar sampai luar, membuat Max menahan napas untuk kesekian kali. Kriaakk… Bunyi engsel pintu bagai pisau yang mengiris-iris hati Max, dia takut akan respon putri kecilnya, mendapati kalau ayahnya sudah tak bisa lagi membelikannya baju dan mainan baru. Pintu pun telah terbuka, Max mendapati seorang anak perempuan umur lima tahun, tubuhnya kurang lebih hanya setinggi galon aqua, raut mukanya polos khas anak kecil sebayanya, wajahnya manis, kulitnya putih bersih dan cantik seperti ibunya, menatap ke arah Max dengan tatapan penuh bangga.
“Ayah pulang…”.


Tinggalkan Balasan