Ketua Senat Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Ikuti Sekolah Parlement Nasional 2025

Tebuireng— Achmad Syifa’ Qolby, Ketua Umum Senat Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, menjadi salah satu delegasi yang terpilih mengikuti Sekolah Parlement Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Creative Student Home Community (Creshome) pada 13 November 2025.

Syifa’ Qolby mengaku mengetahui program Parlementour dan Sekolah Parlement Nasional melalui komunitas Creshome. Ia kemudian mendaftar dan mengikuti proses seleksi berupa administrasi dan wawancara. Meski tidak masuk kategori fully funded, Syifa’ Qolby tetap berangkat setelah memperoleh special funded yang menanggung sebagian biaya kegiatan.

Berangkat dengan Bekal Pengalaman Legislatif

Sebagai ketua senat dan pengurus legislatif kampus, Syifaul menilai dirinya telah memiliki bekal yang cukup untuk mengikuti kegiatan yang berfokus pada pengenalan sistem parlementer Indonesia tersebut.

“Karena saya berkecimpung di lembaga legislatif selama satu periode, jadi bekal yang saya miliki insyaallah cukup,” ujarnya.

Kegiatan yang digelar satu hari itu diikuti mayoritas mahasiswa fakultas hukum dan ilmu politik dari berbagai kampus, anggota DPM kampus, serta aktivis Parlemen Remaja Nasional.

Tidak Berkesempatan Ikut Tur DPR

Dalam program Parlementour, peserta dijadwalkan mengikuti tur gedung DPR RI. Namun Syifaul mengaku tidak dapat mengikuti sesi tersebut akibat keterlambatan pembayaran sehingga hanya bisa menghadiri rangkaian Sekolah Parlement Nasional di Kementerian Koordinator RI.

Membandingkan Sistem Senat Kampus dan DPR RI

Syifa’ Qolby menyebut keikutsertaannya memiliki misi khusus, yaitu melakukan studi banding antara sistem Senat Mahasantri di kampusnya dengan mekanisme legislatif di DPR RI.

“Ternyata sistem parlement DPR RI hampir sama dengan sistem yang dimiliki SEMA Mahasantri. Perbedaannya hanya pada nomenklatur alat kelengkapan,” jelasnya.

Ia menilai tugas, fungsi, dan desain kerja kedua lembaga tersebut serupa, meski terdapat beberapa istilah dan struktur yang menurutnya masih perlu disempurnakan di internal SEMA Mahasantri.

Tantangan Perizinan dan Seleksi Delegasi

Syifa’ Qolby mengungkapkan tantangan terbesar selama proses keberangkatan adalah urusan perizinan karena ia juga memiliki tanggung jawab pembinaan di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia harus mengurus izin kampus dan pesantren sebelum mengikuti kegiatan nasional tersebut.

Terkait kriteria pemilihan delegasi, Syifa’ Qolby menilai panitia menekankan aspek CV, track record Organisasi, dan rekam pengalaman legislatif peserta.

Kesimpulan dan Harapan Ke Depan

Dari hasil kegiatan, Syifa’ Qolby menyimpulkan bahwa SEMA Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari periode ini sudah mendekati standar lembaga legislatif ideal.

“Alhamdulillah, setelah dibandingkan dengan DPR RI, SEMA Mahasantri sudah hampir sangat ideal, meski ada beberapa nomenklatur yang perlu kami sempurnakan,” katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan perbaikan dan pengembangan bagi lembaga legislatif kampusnya ke depan.

, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *