Denpasar: Palimpsest Ingatan

Oleh: Rausyan Fikri Kanzo Mahfi awarde PBSB angkatan 2025

Aku selalu percaya bahwa setiap kota adalah tumpukan rahasia yang ditulis berulang-ulang di atas lembaran yang sama. Para filolog menyebutnya palimpsest: sebuah kondisi di mana teks lama tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik goresan baru, sesekali mengintip untuk mengingatkan keberadaannya. Begitu pula Denpasar bagiku. Ia bukan sekadar koordinat di peta, melainkan tumpukan memoar yang menebal seiring usiaku. dari riuh masa kanak-kanak, kegelisahan remaja, hingga sebuah kepulangan yang terasa getir.

Segalanya bermula dari aroma Pasar Badung. Dalam ingatanku, pagi selalu diawali dengan jemari Ibu yang menggandengku erat, membelah kerumunan di gang-gang sempit yang riuh oleh kokok ayam jago dan tawar-menawar pedagang sayur. Udara di sana adalah simfoni bau: amis ikan laut yang baru turun dari dermaga, wangi rempah yang menyengat, serta kepulan dupa dari pura kecil di sudut pasar yang menenangkan. Di pasar itu, aku bukan hanya belajar tentang jual-beli, melainkan tentang napas keberagaman manusia yang bertemu dalam satu titik. Aku masih bisa mengecap rasa “jaje uli” pemberian seorang pedagang tua—ketan manis yang lengket di lidah—sembari mengingat usapan lembut di kepalaku dan bisikannya: “Jangan lupa, Nak, Denpasar itu bukan sekadar deretan gedung, ia adalah rasa yang kau simpan di dada.” Pesan itu seolah terkunci di bawah akar pohon pule raksasa di Lapangan Puputan Badung. Di sana, aku dan Gede menghabiskan sore dengan layangan kertas minyak yang menari di langit, beradu dengan aroma asap dupa yang terbawa angin.

“Kalau kita besar nanti, Denpasar pasti sudah berubah,” ujar Gede suatu kali, matanya menerawang menembus awan jingga.

“Berubah jadi apa?” tanyaku, masih terlalu polos untuk memahami waktu.

“Entahlah. Mungkin gedung-gedung akan tumbuh lebih tinggi dari pohon ini, dan orang-orang akan berlari lebih cepat dari angin. Tapi kuharap, pohon pule ini tetap di sini sebagai saksi bahwa kita pernah ada.” Aku tertawa kecil saat itu, tak mengerti mengapa ia begitu melankolis. Gede adalah denyut nadiku di kota ini; ia yang mengenalkanku pada keriuhan ogoh-ogoh, mengajarkanku merangkai banten, hingga mengajakku berbagi sebungkus nasi “jinggo” pedas di trotoar saat senja meredup.

Namun, waktu adalah pemahat yang kejam. Saat kami remaja, Denpasar bersalin rupa dengan kecepatan yang membingungkan. Jalanan diperlebar seolah hendak menelan rumah-rumah di tepinya, beton-beton angkuh tumbuh menggantikan warung kopi tempat Bapak biasa bercengkerama. Di Lapangan Renon, kami sering duduk terdiam, memandang anak-anak muda yang sibuk dengan gawai terbaru dan sepatu impor, merasa asing di tanah sendiri. Namun, di tengah keterasingan itu, Denpasar selalu punya cara untuk memelukku kembali melalui suara gamelan yang sayup dari banjar atau ibu-ibu yang masih setia mengulek bumbu kacang untuk “tipat cantok” di sudut gang.

Lalu, takdir menghantamku tanpa peringatan. Kabar kematian Gede di Jalan Gatot Subroto datang seperti petir di langit cerah. Di rumah duka, wangi dupa bercampur dengan aroma kamboja yang luruh, menciptakan sesak yang tak sanggup kulukiskan. Gede pergi, dan bersamanya, separuh nyawa kota ini seolah ikut terkubur. Aku memutuskan pergi, merantau jauh untuk melarikan diri dari bayang-bayang kenangan, meski aku tahu sejauh apa pun aku melangkah, Denpasar akan selalu memanggilku pulang lewat aroma sate lilit yang tertiup angin di kota asing.

##

Bertahun-tahun kemudian, aku kembali. Denpasar menyambutku dengan wajah yang nyaris tak kukenali: kemacetan yang merayap, kafe-kafe modern dengan lampu neon, dan Tukad Badung yang kini bersolek cantik serupa ruang rekreasi di negeri jauh. Namun, saat aku kembali menggigit “jaje uli” di pasar yang sama, atau berdiri di bawah keteduhan pohon pule di Puputan yang ternyata masih setia berdiri, aku menyadari satu hal: kota ini memang berubah, tapi lapisan lamanya tetap bernapas di bawah permukaan.Aku menyusuri jejak spiritual di Pura Jagatnatha, melihat tradisi yang tetap tegak di Art Centre, hingga menyaksikan sawah hijau di Kertalangu yang masih gigih bertahan di kepung beton. Hingga akhirnya, aku tiba di Sanur. Menatap matahari terbit di atas pasir yang sama seperti puluhan tahun lalu. Laut Sanur, serupa pelukan seorang ibu, menerima segala perubahanku dengan kelembutan yang tak pernah pudar.

Kini aku mengerti, Denpasar adalah sebuah palimpsest. Ia adalah perpaduan antara bau dupa purba dan deru mesin modern, antara gema gamelan dan ambisi gedung-gedung tinggi. Di setiap sudutnya, aku masih bisa mendengar gema tawa Gede yang kini abadi dalam angin sore. Sembari memejamkan mata di tepi pantai, aku berbisik lirih, “Denpasar, aku pulang. Meski wajahmu berubah, aku tetap mengenal jantungmu. Karena di setiap lapisan ingatanmu, ada aku. Ada kita.” Aku tersenyum, menyadari bahwa selama kisah ini kutuliskan, Denpasar akan tetap hidup sebagai arsip yang bernapas dalam nadiku sebuah naskah abadi yang takkan pernah selesai ditulis.

Editor: Nuril Widad

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *