Oleh: Haikal Marcellino awarde PBSB angkatan 2025
Entah sudah berapa bulan saya berhenti mengonsumsi tembakau—baik yang digulung dan dibungkus kertas maupun yang diekstrak menjadi cairan. Intinya, berhenti total. Aneh? Iya. Justru ketika usia sudah cukup untuk mengonsumsinya, pandangan saya terhadap tembakau malah terasa semakin absurd. Selain karena larangan di kampus yang menuntut komitmen untuk berhenti, sebenarnya ada beberapa pertimbangan lain yang terasa cukup dalam untuk dipikirkan. Pertimbangan-pertimbangan itu berangkat dari dua hal inti yang menjadi alasan utama. Ketika pengeluaran bulanan mulai terasa semakin “mencekik”, muncul kecenderungan untuk mulai menghitung-hitung, bahkan hingga bersikap pelit pada pengeluaran konsumsi tembakau ini. Serta adanya keinginan hidup sehat dari dalam diri.
Faktor Eksternal
Pertimbangan ini tidak jauh dari aspek finansial atau ekonomi. Perlu diketahui bahwa ketika kita berbicara mengenai teori ekonomi, akan sangat sukar jika kita menafikan pendekatan sosiologis, baik secara filosofis maupun sebagai landasan teoretis, baik kita sadari maupun tidak.[1] Seperti yang diutarakan oleh Popenoe bahwa “uang tidak akan mudah berpindah keluar masuk bank dengan sendirinya atau sebagai jawaban atas kekuatan yang semata-mata. Hal itu disimpan di sana oleh orang-orang yang telah membuat keputusan sosial tentang antisipasi sesuatu maupun menabung untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak mereka, maupun untuk membeli kondominium”.[2] Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang pada awal masa jabatannya sangat aktif membangun optimisme masyarakat, karena keyakinan beliau akan dampak pandangan psikologis masyarakat terhadap ekonomi berdasarkan teori yang terdapat dalam buku Macroeconomics of Self-fulfilling Prophecies. Perlu kita ketahui—disadari atau tidak—bahwa keberadaan rokok bagi konsumennya dipandang lebih dari sekadar barang konsumsi. Pada dasarnya, rokok secara ironis telah menjadi identitas simbolik, baik sebagai simbol kedewasaan, kejantanan, pergaulan, maupun sebagai bentuk pelarian eksistensial. Identitas simbolik ini kerap diperkuat oleh dalih kognitif yang digunakan untuk merasionalisasi suatu tindakan. Dalam hal ini, perokok sering kali mengklaim bahwa dirinya tidak dapat fokus tanpa rokok atau bahwa rokok telah menjadi bagian dari kehidupan sosialnya. Hal inilah yang saya renungkan dan dapat disebut sebagai cognitive justification atau menurut Hegel bisa disebut cognitive bias, yaitu bentuk pembenaran yang tidak sepenuhnya rasional terhadap suatu kebiasaan, yakni proses mental ketika seseorang mencari alasan yang “masuk akal” untuk membenarkan sikap, keputusan, atau perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai, fakta, atau nurani sendiri.[3] Dengan begitu, lengkap sudah fondasi paradigma perokok baik secara sosial maupun psikologis, bahkan jika boleh disebut, fenomena tersebut telah terkontraksi sedemikian rupa hingga mengkristal menjadi idealisme gaya hidup. Akibatnya, seorang perokok akan ‘bertabrakan’ dengan realitas yang tak terelakkan: benturan antara nilai yang dipegang dan keterbatasan sumber daya (conflict of value vs resources). Maka, resolusi yang dirasa paling mudah untuk diterima adalah kompromi. Bagi seorang perokok, berhenti secara mendadak dan sepenuhnya bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, respons awal yang muncul adalah merumuskan langkah-langkah kompromi, yang saya susun menjadi dua pendekatan, yaitu Reframing + Downscaling dan Selective Symbolism.
Reframing + Downscaling merujuk pada upaya untuk tetap merokok secara lebih bijak dengan menurunkan tingkat konsumsi tanpa kehilangan identitas sosial yang melekat. Sementara itu, Selective Symbolism berarti membatasi aktivitas merokok hanya pada momen-momen tertentu.
Pada akhirnya, kita seharusnya menyadari mengapa rokok dapat begitu tahan dalam keinginan seseorang, meskipun kesehatan terancam, kondisi ekonomi labil, serta stigma sosial terus meningkat. Saya berpendapat bahwa hal tersebut terjadi karena kecerdasan kognitif seseorang keliru dalam menilai rokok, di mana nilai simboliknya dianggap lebih kuat daripada nilai fungsionalnya. Meski demikian, pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa resolusi yang diambil di sini tidak tampak tegas, padahal penulis telah meyakini alasan-alasannya sedemikian rupa. Jawabannya terletak pada kesadaran bahwa benturan antara idealisme dan realitas merupakan sesuatu yang nyata dan dirasakan secara langsung. Tidak mudah bagi seseorang untuk segera menentukan pilihan secara tegas di antara keduanya. Oleh karena itu, idealisme tersebut dipertahankan melalui kompromi, alih-alih dipertaruhkan sepenuhnya, hingga diri mampu beradaptasi dan pikiran menemukan arah kecenderungannya.
Faktor Internal
Selanjutnya, setelah berbagai pengorbanan eksistensial dilakukan demi berkompromi, logika justru memunculkan persoalan yang bersumber dari hati nurani. Pertanyaan-pertanyaan pun semakin mengemuka: mengapa aku merokok? Apakah itu bentuk kecanduan? Apakah kecanduan benar-benar nyata, ataukah hanya ilusi semata? Absurditas ini berjalan beriringan dengan kesadaran independen bahwa aku memiliki kuasa penuh atas pikiranku sendiri. Aku menyadari bahwa aku dapat memilih—apakah membutuhkan pelarian atau validasi yang bersifat adiktif—namun mengapa pilihan itu justru jatuh pada sesuatu yang tidak sehat? Apakah hal tersebut sepadan dengan harga kesehatan yang harus digadaikan?
Pada akhirnya, hidup sehat adalah sebuah pilihan, dan pilihan tersebut merupakan investasi terbaik bagi diri sendiri. Kesadaran inilah yang semakin mendorong diriku untuk berhenti. Bukan semata-mata dorongan performatif untuk menjadi bagian dari “lima persen laki-laki yang tidak merokok”, sebagaimana disebutkan dalam sebuah unggahan survei yang sempat saya lihat di Instagram. Oh ya, kebetulan gaya hidup sehat juga menjadi salah satu tren pada tahun 2025.[4] Pandangan sebagian orang terhadap rokok yang sebelumnya dianggap sebagai aktivitas yang keren dan maskulin mulai tergeser dengan hadirnya tren hidup sehat tersebut. Namun, yang menarik, berdasarkan proyeksi prevalensi dari WHO, pada tahun yang sama jumlah perokok di Indonesia justru diperkirakan tetap meningkat.[5] Masyarakat memang mulai menyukai gaya hidup sehat dan mungkin sebenarnya sadar mana yang lebih ideal, tapi entah kenapa masih enggan, sehingga menimbulkan Value-Action Gap dalam psikologi, dimana seseorang mengatakan suatu hal, akan tetapi malah melakukan hal lain. Bukan artinya mereka berbohong, tetapi karena menjalani nilai-nilai tersebut secara berantakan pada realitanya. Untuk menemukan jalan keluar di antara idealisme yang “kasar” dan realitas yang adiktif, sekaligus menghindari jebakan fear of missing out (FOMO), Dr. Mozelle Martin, seorang profesional kesehatan mental asal Arizona, Amerika Serikat, menawarkan sebuah solusi reflektif. Solusi tersebut berupa upaya mengenali diri sendiri secara mendalam, serta memaknai perjalanan hidup bukan semata-mata dengan orientasi pada tujuan, melainkan melalui pengenalan pola terhadap diri sendiri. Setiap kali seseorang mengatakan bahwa ia memercayai sesuatu, tetapi kemudian bertindak bertentangan dengan keyakinan tersebut, hal itu merupakan sebuah jejak. Dari jejak itulah seseorang dapat menemukan di mana ia merasa takut, di mana ia merasa lelah, dan di mana ia sebenarnya perlu bertumbuh.[6]
Resolusi dari seluruh permasalahan ini terdengar seolah-olah lebih mudah karena berpusat pada diri sendiri. Dengan demikian, hal tersebut memungkinkan untuk direnungkan guna segera menentukan pilihan: mana yang sebenarnya diidealkan—antara idealisme finansial dan kesehatan, atau bangunan ideal yang “berfondasi” pada ego serta hasrat akan validasi. Namun, dengan menyadari bahwa seluruh faktor tersebut pada akhirnya bermuara pada diri kita sendiri, kita semestinya mendorong diri untuk semakin giat mengimprovisasi pola pikir sebagai persiapan dalam menghadapi paradigma realitas. Apakah hal itu mudah? Tentu tidak. Menemukan buih jati diri di tengah luasnya samudra eksistensial—terombang-ambing oleh gelombang kegelisahan, kebingungan, krisis identitas, serta badai realitas—bukanlah perkara sederhana.
Pengaplikasian
Mahasiswa diharapkan menjadi intelektual yang visioner, agen perubahan, dan sekaligus mampu memberikan kontribusi besar bagi negara. Namun, jika dilihat dari sudut pandang individu di lapangan, sering kali tampak kebimbangan yang dialami mahasiswa. Mereka memikul tanggung jawab intelektual, sekaligus dilanda keresahan terhadap realitas dan prospek masa depan. Oleh karena itu, dalam konteks ini, rokok tidak saya anggap sekadar sebagai objek. Rokok digunakan sebagai jembatan analitis untuk membantu memahami arah keresahan mayoritas mahasiswa yang terjebak dalam kebimbangan dua arah. Pada dasarnya, idealisme mahasiswa tidak pernah benar-benar hilang. Kalaupun tampak memudar, hal tersebut merupakan hasil dari pertarungan hebat antara ketakutan menghadapi masa depan dan mekanisme pembenaran kognitif. Sebagaimana rokok berfungsi sebagai identitas simbolik yang dipertahankan melalui pembenaran kognitif, idealisme mahasiswa kerap bekerja dengan mekanisme yang serupa. Idealisme dijaga bukan semata karena fungsional bagi masa depan, melainkan karena memberi rasa identitas, kebermaknaan, dan legitimasi diri. Pada titik tertentu, idealisme tersebut kemudian berbenturan dengan realitas prospek hidup yang menuntut efisiensi, keberlanjutan, serta kesiapan adaptif. Kompromi yang dimaksud pada bagian pertama, jika diaplikasikan pada pembahasan ini, merujuk pada keberanian mahasiswa untuk mempelajari berbagai hal yang belum ia ketahui, sekaligus mengompromikan pembenaran kognitif dan egonya—meskipun terdapat kemungkinan bahwa pandangan tersebut benar. Dengan cara yang sama dalam menyikapi cognitive justification pada pembahasan awal, rasionalisasi pada tahap ini tidak dapat berperan sebagai evaluator yang mengeliminasi, melainkan sebagai ruang pertimbangan akhir. Pertimbangan tersebut nantinya dipadukan dengan hati nurani, setelah mahasiswa melewati berbagai proses kompromi, pencarian pengalaman, dan pembentukan jati diri. Selanjutnya, mahasiswa perlu menemukan apa yang benar-benar ia inginkan, sekaligus memahami apa yang sungguh-sungguh baik bagi dirinya dan masa depannya. Pemahaman ini menjadi bekal penting dalam mempersiapkan keputusan-keputusan yang akan diambil sepanjang perjalanan menuju kedewasaan. Beranilah berjuang di awal petualanganmu dalam rimba jati diri. Bersabarlah dalam “memburu” pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan. Kelak, ketika pengalaman, pengetahuan, dan kemampuanmu telah seluas samudra, kenalilah dirimu yang sebenarnya. Gunakanlah hal-hal yang benar-benar berguna bagimu dengan “filter” kebijaksanaan yang terbentuk oleh kedewasaan. Laksana filter rokok yang menyaring partikel tar agar hisapannya terasa lebih halus, koreksi dalam perjalanan hidup bukanlah upaya untuk mengeliminasi masa lalu, melainkan untuk direnungi dan dikompromikan. Begitu pula dengan filter rokok: ia bukan alat perlindungan, melainkan alat kompromi—menyaring hal yang mengganggu, bukan yang berbahaya.[7]
Referensi:
[1] M. Firmansyah,Agus Suman,Asfi Manzilati,Susilo Susilo, Perdebatan Teori Rasionalitas dalam Menjelaskan Terbentuknya Biaya Transaksi pada Seleksi Pegawai Negeri, 2012, https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1330&context=jepi [Website Scholarhub Universitas Indonesia]
[2] Warjito Makruf, Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi, 2023, https://sosiopedia.com/hubungan-sosiologi-dengan-ilmu-ekonomi/ [Website Sosiopedia]
[3] Sudjarwo, Pembenaran yang Tidak Benar, 2025, https://malahayati.ac.id/?p=74203 [Website Universitas Malahayati]
[4] Admin Indonesia Data, Tren Gaya Hidup Sehat di Indonesia: Data Terkini dan Prediksi 2025, 2024, https://indonesiadata.id/articles/tren-gaya-hidup-sehat-di-indonesia-data-terkini-dan-prediksi-2025 [Website Indonesia Data mengutip BPS]
[5] Agnes Z. Yonatan, WHO: Perokok Indonesia Mencapai 38,7% di 2025, 2024, https://data.goodstats.id/statistic/who-perokok-indonesia-mencapai-387-di-2025-wtg5r [Situs GoodStats]
[6] Dr. Mozelle Martin, The Value-Action Gap: When Principles Meet Practice, 2025, https://medium.com/@Inkprofiler/the-value-action-gap-when-principles-meet-practice-31e42632b380 [Website Artikel Medium]
[7] Ahmad Saeroji, Fungsi Filter Rokok Apa Sih?, 2021, https://komunitaskretek.or.id/ragam/2021/11/filter-rokok-fungsinya-apa-sih/ [Website Komunitas Kretek]
Editor: Nuril Widad


Tinggalkan Balasan