By: Nuril Widad
Gaduh sekali bumi
Padat dengan kesesuaian
Beradu pasal memimpin dunia
Berkelakar kian kemari
Membawa papan iklan sekedar basa-basi
Sekarang,
Bising wanita dianggap do’if untuk dihina
Berpacu kekuasaan sesuka hati
Dengan mudah menendang emansipasi
Serta menolak keras untuk diseimbangi
Kita bukan sedang membuka lagi
Membaca lembaran abadi perjuangan RA. Kartini
Kita hidup yang terlahir dari rahim Pertiwi
Dengan kesederhanaan aku mengingat
Tentang betapa perempuan Indonesia
Sedang berharap pada hari depan
Bagaimana baskara menyinari buana
Bahwa tiada yang beda antara kau kami dan mereka
Berupa surat cintamu untuk perempuan Indonesia
Wahai putri berbudi Sani
Cahaya juangmu merubah nasib Bangsa ini
Hingga kita mereka dapat menempuh pendidikan tinggi
Tanpa perlu takut akan tirani kaum lelaki
“Lantas bagaimana hak kami..?”
Kami berhak bersuara
Kami berhak berambisi
Kami berhak berinspirasi
Kami berhak berenovasi
Tinggalkan Balasan